NEWS
DETAILS
Senin, 25 Aug 2014 00:00 - Satu Hati Kaltim

Kesombongan biasanya identik dengan sesuatu yang berlebihan. Sang pelaku ingin memamerkan ‘kelebihan’ yang dimilikinya. Misal, lebih kaya, lebih bagus, lebih tinggi status sosialnya, hingga lebih tinggi status ekonomi dan politiknya alias lebih berkuasa. Hal yang mudah dirasakan dari organisasi itu adalah kelakuan meminta prioritas padahal bukan pihak yang memiliki hak utama. Pengguna jalan yang seperti ini enggan antre dan melabrak aturan yang ada demi kepentingan diri sendiri alias egois. Potret keseharian dari perilaku seperti itu diantaranya saling serobot, menghardik pengguna jalan yang lain, hingga bermanuver dengan sembrono. Umumnya, hal itu dipertontonkan dengan cara berkelompok. Bisa jadi ketika berkelompok ada keberanian yang lebih besar untuk memamerkan kesombongannya.

Di jalan raya Samarinda kita pernah dipertontonkan oleh gesekan-gesekan yang memprihatinkan. Ada adu mulut, adu jotos, hingga adu pelor. Akar persoalannya berkutat pada saling mengutamakan ego masing-masing. Kelakuan arogan karena merasa lebih kuat, lebih mampu, dan lebih segalanya. Dia lupa, di atas langit ada langit.

Saat itu meledak. Persoalannya bisa merembet kemana-mana. Paling sedikit adalah menciptakan kemacetan atau atrean kendaraan yang mengular karena adanya pamer adu mulut atau adu jotos. Belum lagi ketika kelakuan arogan tadi menggoda sang jagal jalan raya untuk hadir. Praktis, kecelakaan yang tercipta juga ikut menimbulkan kemacetan yang bisa jadi amat luar biasa. Belum lagi kerugian material dan penderitaan akibat luka yang di derita sang korban. Bahkan, pada titik yang lebih buruk merenggut jiwa sang korban dan menyisakan problem pada keluarga yang ditinggalkan. Kecelakaan berdampak luas. Sikap arogan mudah terlihat saat pengendara jalan berkelompok. Saat itu, perilaku yang dipertontonkan adalah meminta prioritas. Para pengguna jalan yang lain diminta mengalah. Jalan raya seakan milik kelompok tersebut. Padahal, kita semua tahu, semua pengguna jalan memiliki hak dan kewajiban yang sama, kecuali para pemilik hak utama seperti ambulans dan pemadam kebakaran yang sedang bertugas. Untuk kelakuan yang ini mudah ditebak tujuannya adalah untuk memperoleh hak utama alias diprioritaskan. Terakhir, apa yang memicu mereka arogan? Coba kita raba-raba. Barangkali sang pelaku merasa dirinya lebih kuat. Atau, merasa lebih hebat secara ekonomi, social, hingga politik. Keberanian yang dipertunjukkan sehingga menjadi arogan pasti punya alasan.

Manusia memiliki otak dan nurani, sedangkan hewan tidak. Keadaban kita sebagai manusia ketika di jalan raya terlihat dari kepedulian dengan sikap sudi toleran dan sudi mena’ati aturan yang ada. Hanya naluri binatang yang merampas hak orang lain demi kepentingan diri sendiri.

RELATED
NEWS
UPCOMING
EVENTS
TOP 5 NEWS
TWITTER
FACEBOOK